Harewos Cacah (kumpulan sajak nu sakaeling)

Ku Ardi Mulyana H.Heug ku kaula dianteurDi palataran rek kumawantunJung gera cumaritaLain agul lain jumawaTanyakeun kecap nu pernah medal basa haritaDina mangsa usum ngecrik soraLain sono rek ngalolohoTapi nginget-nginget nu ges pohoSabab kuring cacah bakal salahLamun teu ngelingan acanSok atuh gera petakeunSangkan rahayat hirup barokahGarut, April...

Panon Duit (kumpulan sajak nu sakaeling)

Ku Ardi Mulyana H.Sok gera tingali jaman kiwariPanon duit pating araclog dina mejaSiga bandar jeung nu meuliAdu tawar adu kahayangBatin mah ceurik tapi teu bijilNaha bet kieuNaha bet kituNaraha nya?Kuring teu sadar jeng teu apalJol-jol ngaguprak tina risbangPaingan kieu paingan kituSinghoreng simanahorengEta kajadian teh aya dina alam impenanGarut,...

Bentang Gumujeng (kumpulan sajak nu sakaeling)

Ku Ardi Mulyana H.Cag ngarumbay kana manahSalembar rasa kahemanBibilintik ti leuleutikMapay-mapay gawir lamunanLur diulur, tot dibeutotKaditu kadieuSilih asuh kasonoSilih baledog katersnaDek kamana duh mojang nu kamariBasa eta basa wanci lelengkah haluAnjeun datang mawa kecap, “Akang, Nyai teh kersa jadi bojo Akang!”Asana moal aya kabingah nu nyeuleucep...

Neng Maya (kumpulan sajak nu sakaeling)

Ardi Mulyana H.teu bisa saregara-gara cikopijadi nulisdi raray neng mayaGarut, Oktober 2010cat. neng maya= internet (yang jadi gaya/metafor saya tersendiri meski semaun...

Waduhai

Ardi Mulyana H.malam iniaku menggantungpada hatimuGarut, Oktober 2...

Ah Parasmu

Ardi Mulyana H.wajahmu manissemanis dodol garutyang kumakanGarut, Oktober 2...

Geriuhnya Rindumu 2

Ardi Mulyana H.engkau hadirkan wajahmu lewat tutur katahingga jelas tersenyum melihatkudatang dan duduk serta memandang horizon nun luasdan matamu terbelai oleh geriuhnya anak angin dari benua kesunyiandatanglah duhai kerinduandatanglah duhai gelorakemarikan hatimu untuk kutuliskan sbagai prasasti yang indahhingga mampu menghias rindu inilihatlah duhai...

Geriuhnya Rindumu

Ardi Mulyana H.pergi hatiku, pergilah hatikukarena rindu tiada yang bertepiseperti gugusan pantai van javabagaikan aliran air yang terus mengalirtidakkah kalian mengetahui tentang makna syair iniyang datang dari benua kesunyianyang datang dari kegalauan hati yang tercabikoleh tingkah yang membuat angin gundah gulanadatanglah, datanglah oh sketsa rindu...

Bertempur dengan Badai

Ardi Mulyana H.hujan menggaduh di luarberbagi gemuruh setengah badaiseperti ribuan anak panah tentara padjadjarandalam yuda melesat menohok jejantungberkata-kata bersama hari yang tak adabertalu-talu bersama gendang yang hampadi luar, hujan begitu meriuhbagaikan deru-deru ombak laut selatanbersiap-siap menyelami waktu yang mungkin tak adabersiap-siap...

Engkaumu

Ardi Mulyana H.engkau tlah merenggut wajahmu sendirihingga sirna dari tatapankupergi di petang kehidupanmematikan pelita yang engkau sulut di hati inikasihku mengucur deras menggenangi seluruh jiwakarena engkau tlah pergi mencerabut penyangga rindu inibanyak yang engkau lakukan,kecuali satu engkau tak lagi menjadi kekasihkuGarut, Oktober 2...

Prahara dan Prahara

Ardi Mulyana H.namaku yang menjadi haram di telingamukarena prahara tempo itu antara kitabiarlah semua ini aku yang mulaibiarlah semua ini aku yang akhiridan aku mulai mengambil sebuah batudari benua kesunyianbiarlah kutulis sebuah bayangan masa laluagar terus abadiseseorang yang sadar akan kehadiran wajahmubiarlah dia menjadi seorang yang halalkala...

Elokmu Badai

Ardi Mulyana H.merapatlah kemari semlohai buluh rindutahun ini berjalan tanpamuberkata-kata tanpa artilaksana meriam tanpa isimerapatlah semlohai kawan hatidi luar kita berbagi cinta pada semuadi dalam kita berbagi rindu pada jiwahadirlah, hadirlah semlohai buluh rindukatakan dengan gelombang yang mendeburkatakan dengan muntahan gunung meletusbahwa;rindu...

Prelude Oktober

Ardi Mulyana H.hujan senantiasa merapatberbagi dingin bersama anginwaktu berjalan kian padammelangkah untuk bersua bersama hasratgenting di luar menggaduh tertawatertimpa hujan di pertengahan oktobersenantiasa membagi cerita dan bertanya padaku:apa yang akan kou tuliskan?tanpa sempat kujawabperlahan aku mulai menulis:‘temaram, engkau yang mencumbu...

catatan guru (sukwan) di tapal batas

Ardi Mulyana H.miskin aku berangkatpapa aku pulanglaksana angin sepoi meniup ilalangberlalu tanpa artidetik jam mencekik waktusemakin lama semakin gelisahdapur-dapurku tak lagi berasapoh bukan, berasap namun tersendat-sendatinilah yang kualami laksana sarapan pagimaka, tahukah dalam kelamnya zamanaku ingin mencipta pelitalewat puisi aku memelita serta...

Engkau yang Mati

Ardi Mulyana H.setahun yang lalu sayangengkau mati berbaring di pelukkukini engkau tlah matimeninggalkan luka diri iniaku tak pernah tahusebegitu indahnya kasihmumeninggi laksana elang yang terbangnamun, kini engkau hanya catatan indahmaafkan duhai kasihbarangkali engkau tenang di alam sanasemoga engkau membawa retakan hatiku yang dukatersenyum melihat...

Sajak Orang Gila

Ardi Mulyana H.mereka yang terabaikan dalam kenanganbau nafasnya menghiasi udara di kota-kota dan di kampong-kampongtampilannya seperti hulubalang tanpa kesaktiangagah namun tanpa arahberulang kali aku menulis tentang merekaah, baru satu kali, eh tapi dua kaliah, berulang kali dalam sajak tanpa penabagaikan efek dominoah, mereka senyum padakumanis,...

Jalinanmu Bahasa

Ardi Mulyana H.aku melalui jalianan kata-katatiap hari melatih empat ketrampilan berbahasamenimak, berbicara, membaca, dan menulispertama, menimak hati yang penuh haraplaksana horizon yang membuka lembarannya di kala pagikedua, berbicara dari hati ke hatimenyelesaikan pertikaian tanpa kekerasanmencipta sesuatu perkataan yang indah untuk dikecupketiga,...

Bayang-bayang yang Keempat

Ardi Mulyana H.Aku naikkan syukur ini ke hadirat-MuKini, aku mulai masuk pada bayang-bayang yang keempatAku mencintai Nusantara ini karena-MuDari Swarnadwipa sampai PapuaDari Arun sampai FreeportDari Borneo memberikan salam pada KhatulistiwaDengan dua musim dan juga kekayaan alamnyaKemarau dan hujan; susah dan senangJawadwipa, tempatku dilahirkan dari...

Bayang-bayang yang Ketiga

Ardi Mulyana H.Jawaban untukku adalah “tidak”Kenyataan untukku adalah “pergi”Katanya aku hanyalah sebuah bayang-bayangKatanya aku hanyalah sebuah ketidakmampuanLapangan kerja kian habis ditelan zamanTak ada lagi kesempatan bagi diri ini Kata mereka kini aku pengangguran yang sibuk dengan pena dan kertasAku memang tak pandai bicara, makanya aku sibuk...

Bayang-bayang yang Kedua

Ardi mulyana H.Dialah yang terabaikanBerjalan di lorong-lorong menuju kematianJiwanya tak tahu lagi duniaHarusnya dia di rumah sakit-rumah sakit jiwaDan bukan berlarian dengan mimpi indahnya di jalananBaju yang compang-camping dalam raga kulit tinggal tulangNgeri aku ini meninjau dengan melihat serta mengintip kehidupannyaNgeri aku ini melirik mereka...

Bayang-bayang yang Pertama

Ardi Mulyana H.Mentari, dia yang sunyiCahyanya menusuk membelai seperti tangisan bayiCahyanya jatuh menimpa sejumlah tanah di Nusantara iniDan bicara padaku tentang tanah-tanah kian menyempitSeperti rimba yang menangis di pangkuan ibundanyaMeronta di antara cukong-cukong kayu yang gilaTapi, mereka tak peduliBatang-batang bergelondong menjadi almari...

Tulisan Populer