TEMALI SINTAKSIS DAN SEMANTIK KALIMAT SEDERHANA BAHASA INDONESIA: KAJIAN ROLE AND REFERENCE GRAMMAR

Caraka : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia serta Bahasa dan Sastra Daerah 
 Volume 1, Nomor 1---- Februari 2014

         
Ardi Mulyana Haryadi
STKIP Garut

Abstrak
              Tulisan ini diniati untuk memetakan konsep temali sintaksis dan semantik kalimat sederhana bahasa Indonesia. Pendekatan teori yang digunakan dalam tulisan ini adalah Role and Reference Grammar (RRG). Teori tersebut merepresentasikan temali gramatikal yang dihubungkan dengan linking algorithm. Hal tersebut memberikan keterangan bahwa struktur sintaksis ditemalikan dengan aspek semantik yang tercakup dalam struktur logis.

              Kata kunci: sintaksis, semantik, bahasa Indonesia, Role and  Reference Grammar

MENYOAL KELAS VERBA DALAM BAHASA INDONESIA: KAJIAN ROLE AND REFERENCE GRAMMAR

Makalah ini disajikan pada forum ilmiah APBI (Asosiasi Pengajar Bahasa Indonesia) 2014

Ardi Mulyana Haryadi
STKIP Garut

Tulisan dalam makalah ini mempergunakan teori fungsional Role and Reference Grammar (RRG) yang pertama kali dikembangkan oleh Foley dan Van Valin (1984, Van Valin dan La Polla 1997, Van Valin 1993 dalam Farrel, 2005). Fungsionalisme erat kaitannya bahwa bahasa adalah fenomena sosial (lihat Kridalaksana, 2002). Manusia mempergunakan bahasa sebagai sarana interaksi sosial. Sekaitan dengan hal tersebut, sintaksis merupakan komponen utama bahasa manusia (Van Valin, 2004). Dalam sebuah kalimat, argumen dapat direpresentasikan struktur logisnya (lihat Haryadi, 2014). Maka dari itu kita sebagai penguna bahasa (Indonesia) lazim mengenal bentuk-bentuk seperti di bawah ini.

(1) Ana memotong kue
(2) Asep takut
(3) Amar dan Yaya sedang di kampus
(4) Air membeku

Ketiga bentuk kalimat di atas lazim dipergunakan oleh pengguna bahasa Indonesia. Dari segi tatabahasa, kalimat (1), (4), dapat dilihat sebagai S à NP VP (NP), kalimat (2) S à NP adjP, dan kalimat (3) S à NP PP. Dalam teori Role and Reference Grammar dikenal beberapa kelas verba (Van Valin, 2005). Hal tersebut dapat kita lihat dalam realisasi berikut ini.

(2) Asep takut             be’ (Asep, [takut’])                STATE
(3) Amar dan Yaya sedang di kampus   be-in’ (kampus, Amar dan Yaya)   STATE

Verba dari kalimat (2) memiliki sifat statis atau nongerak. Verba state biasanya berkaitan dengan persepsi mental serta kognisi (lihat Haryadi, 2013). Dari segi struktur logisnya, Asep sebagai UNDERGOER yang memiliki persepsi mental ‘takut’. Verba dari kalimat (3) memiliki sifat ‘keaadaan’. Hal yang dilakukan oleh Amar dan Yaya yakni sedang berada di dalam kampus. Bandingkan dengan Nasanius (2013) yang melihat bahwa PP seperti di kampus/di rumah merupakan predikat bukan verba dari klausa kecil.

(1) Ana memotong kue           do’ (Ana, [memotong’ (Ana, kue)])   ACTIVITY

Verba dari kalimat tersebut memiliki sifat bergerak atau berkenaan dengan sebuah kegiatan. Teori Role and Reference Grammar  memberikan ciri dinamis dalam verba activity. Dengan kata lain kalimat di atas dapat disisipi oleh aspek ‘sedang’ Ana sedang memotong kue. Secara sepintas dapat terlihat ada sebuah kegiatan yang sedang berlangsung. Ana sebagai ACTOR dan kue sebagai UNDERGOER dengan ciri semantis do’ sebagai penanda sebuah aktivitas.

(4) Air membeku         BECOME membeku’ (air)     ACCOMPLISHMENT

Verba dari kalimat di atas mempunyai sifat untuk mencapai suatu tujuan. Dalam hal ini air mencapai pemenuhan untuk menjadi beku. Air sebagai PERFORMER bertransformasi menjadi bentuk lain sebagai PERFORMANCE ‘beku’.
REFERENSI

Farrel, Patrick. (2005). Grammatical Relation. Oxford: Oxford University Press.

Haryadi, Ardi Mulyana. (2013). Kelas Verba dalam Kalimat Bahasa Sunda: Kajian Role and Reference Grammar. Tesis M.Hum., Universitas Pendidikan Indonesia, 2013.

Haryadi, Ardi Mulyana. (2014). “Temali Sintaksis dan Semantik Kalimat Sederhana Bahasa Indonesia: Kajian Role and Reference Grammar”. Caraka Vol. 1 No 1.

Kridalaksana, Harimurti. (2002). Struktur, Kategori, dan Fungsi dalam Teori Sintaksis. Jakarta: Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.

Nasanius, Yasir. (2013). “Klausa Kecil dalam Bahasa Indonesia”. Linguistik Indonesia Tahun ke-31, No. 2
.
Van Valin Jr., Robert D. (2004). An Introduction to Syntax. Cambridge: Cambridge University Press.

Van Valin Jr., Robert D. (2005). Exploring The Syntax-Semantic Interface. Cambridge: Cambridge University Press.




Bahasa Indonesia dan Disiplin Berbahasa


Bahasa Indonesia dan Disiplin Berbahasa (esai keempat dari seri tulisan Bahasa dan Budaya)

Oleh Ardi Mulyana H.

Fungsi serta kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa negara memang sampai sekarang masih patut untuk dikembangkan secara taat asas. Dalam artian merujuk pada suatu aturan atau konvensi yang telah ditetapkan bersama. Menyoal pada penggunaan bahasa Indonesia tidaklah terlepas dari dua macam sikap, yakni sikap positif dan negatif. Sikap positif dapat diidentifikasi pada penggunaan bahasa Indonesia secara sadar, baik, santun, dan tepat. Artinya digunakan secara baik dan benar sesuai konteks di mana bahasa itu digunakan (bandingkan dengan pendapat dari Dell Hymes dalam sosiolinguistik SPEAKING). Sedangkan sikap negatif pun dapat diidentifikasi dari kekurangsadaran pemakai bahasa dalam mempergunakan secara sadar, baik, santun, dan tepat. Dalam hal ini para ahli bahasa dan guru bahasa (jangan kacaukan arti dari ahli bahasa dan guru bahasa karena keduanya mempunyai tugas yang berbeda namun saling melengkapi) dibuat khawatir. Pasalnya pembinaan serta pengembangan bahasa Indonesia belum dapat dikatakan berhasil. Mengapa? Sebab para pemakai bahasa Indonesia seringkali melakukan campur kode dengan bahasa lain—terlebih dengan bahasa asing. Oleh karena itu, dapatlah kita simak secara nyata bahwa banyak para remaja dalam mempergunakan bahasa nasionalnya secara serampangan dengan mencampuradukkan bersama bahasa lain serta mempergunakan ejaan ortografis dengan kombinasi angka-angka, mempergunakan huruf yang besar kecil seenaknya—terlebih dengan bahasa asing padahal di dalam bahasa Indonesia sudah ada padanannya. Yang menjadi persoalan di sini adalah bagaimana pembinaan serta pengembangan bahasa Indonesia di tingkat pendidikan formal? Jangankan para remaja, para intelektual pun seringkali bercampur kode dengan bahasa asing. Barangkali untuk gagah-gagahan supaya terlihat keren. Tetapi yang menjadi persoalan di sini tidak hanya penggunaan bahasa Indonesia secara lisan. Secara tulisan pun—khususnya di dalam produk makanan—banyak ditemukan digunakannya bahasa asing. Konsumen, di sini mayoritas adalah pribumi yang kebanyakan kurang mengerti akan bahasa asing tersebut. Dengan demikian seluruh elemen bangsa ini telah bersikap negatif jika demikian terhadap bahasa Indonesia. Penulis di sini melakukan beberapa pengamatan terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang secara nyata kuranglah memuaskan. Sebagai contoh, seringnya dikacaukan penggunaan “di” yang merupakan kata depan dan imbuhan (prefiks). Seperti pada kalimat, “tanah ini akan di jual”, “rumah ini di kontrakkan”, “sepatu dan sandal harap di buka”, dsb. Dan lebih parah lagi jika ditemui penggunaan “di” yang salah pada label instansi pemerintahan. Sikap sadar akan bahasa di negara kita memang masih perlu pembinaan secara meluas dan menyeluruh pada lapisan masyarakat. Berkait dengan hal ini menurut Prof. Dr. J. S. Badudu bahwa pengajaran bahasa Indonesia di sekolah/pendidikan formal bersifat gramatikasentris. Artinya terlalu berpusat dan fokus terhadap tata bahasa saja. Sedangkan sikap untuk menumbuhkembangkan rasa sadar dan cinta akan bahasa Indonesia kurang digalakkan. Oleh karena itu, kita sebagai pemilik bahasa Indonesia (yang sebagian besar bahasa Indonesia adalah bahasa kedua karena bahasa ibunya bahasa daerahnya masing-masing) patut bersikap positif terhadap bahasa sendiri. Kita patut bangga karena kita mempunyai bahasa yang mampu mewakili/mengantarkan komunikasi ilmiah, sastra/seni, serta mampu mengembangkan budaya. Dan bahasa Indonesia memiliki kemampuan itu. Apakah kita masing kurang berbangga dengan jadinya bahasa Indonesia sebagai bahasa Asean (lihat juga BIPA). Sekali lagi, banyak penggunaan bahasa Indonesia yang salah kaprah. Semua itu tidak lepas dari sikap negatif kita dalam menggunakan bahasa Indonesia. Sebagaimana yang diucapkan oleh pujangga kita M. Yamin, “Bahasa menunjukkan bangsa.” Dan tinggal kita menentukan sikap, positif atau negatif? Wallohualam bishawab.

Garut, Juni 2011

Penulis adalah peminat linguistik.

Dawai Kata-Kata

Ardi Mulyana Haryadi

prelude satu

kata, kata mana lagi yang bermakna?
setelah sepoi angin menerbangkannya ke langit kelam
kata, kata mana yang lagi bermakna?
semenjak kicau burung mensilapkan artinya
kata, kata bisa menggerakkan hati
ia bisa lebih indah dari binar sinar cahya gilang gemilang
kata, ia semisal kasturi jika ada cinta di dalamnya
daku mengepak menapak cakrawala
melihat kata entah ke mana
mencari makna daku sendiri risau
entah esok, kata mana lagi yang mesti kutulis
o,
malam kian menajam
penyamun kian berlarian
entah bagaimana daku melewati temaram?
di saat mata tak terpejam
di saat kata tak lagi mesra

prelude dua

bulan menanjak
menamparkan cahyanya yang sendu
daku menimang sepi di bawah bayang-bayang air
ombak yang bergulung
riak yang bergemerincik
wajah yang sayu
o,
beberapa kali teratai malu berkembang
ia hanya bergoyang ketika angin lembut menyapa
di depan, telaga senyum sendiri
ia ingin berkata namun tanpa daya
pinus melengkung laksana najam yang condong


prelude tiga

tentang kekasih,
tatapannya mengharu
kian lama kian tajam
dari rambutnya, ia menyampaikan selaksa makna
seperti denting dawai ia mengerling
makin lama makin tajam
dunia cinta, ke manakah tabuhan gendang kala lentik jemari memetik rindu
dawai yang kubuat dari luka dulu memilu menyanyat
o,
tarian jiwa menari dalam selaksa mata
jangan menatap daku seperti sinar bulan dalam air laut
daku silap tak berbinar


Garut, 15 April 2013







Reviu Jurnal Pragmatik


Strategi Kesantunan Tindak Tutur Penolakan dalam Bahasa Makasar. Oleh Nurlina Arisnawati. Balai Bahasa Ujung Pandang. Sawerigading No. 1, April 2012 Hal. 113-120.

Direviu oleh Ardi Mulyana Haryadi, Universitas Pendidikan Indonesia

1.      Pendahuluan

Bahasa seseorang (dan masyarakat bahasa) berkaitan dengan budayanya. Jika berbicara mengenai bahasa, itu sekaligus berbicara mengenai budaya. Bahasa dan budaya merupakan temali yang saling menyambung. Dengan kata lain, bahasa dalam budaya tertentu mempunyai idiosinkrotisnya sendiri antarpenggunanya. Tiap-tiap bahasa mempunyai caranya sendiri dalam realisasi tindak tutur (penolakan). Ini bisa jadi bahwa budaya yang mempengaruhi bahasa sebagaimana sarjana Jerman Wilholm Von Humbolt kemukakan—kontradiksinya dengan Sapir-Whorf yang mengemukakan bahasa mempengaruhi cara pandang dan berpikir suatu masyarakat bahasa. Dalam suatu masyarakat budaya memiliki beragam cara untuk bertindak tutur. Barangkali karena berbudaya itulah kita sebagai masyarakat bahasa memiliki beragam bentuk atau cara mengungkapkannya. Kata-kata yang diungkapkan oleh pembicara memiliki dua jenis makna sekaligus, yaitu makna proposisional atau makna lokusioner (locutionary meaning) dan makna ilokusioner (illocutionary meaning)’ (Abdurrahman, 2006). 
Tindak tutur merupakan suatu konsep linguistik sebagaimana Austin (1962)  mencetuskannya dalam How To Do Things with Words. Dan kemudian gagasan tersebut dikembangkan kembali oleh muridnya, Searle enam tahun kemudian dalam Speech Act and Essay in Philosophy of Language. Austin (1978:101 dalam Wiryotinoyo, 2006)) membedakan adanya tiga macam tindak tutur, yakni lokusi, ilokusi dan perlokusi. Ide Austin ialah “ialah tuturan-tuturan performatif (singkatnya ‘performatif’) pada umumnya berbeda dengan tuturan-tuturan konstatif (constative) atau deskriptif” (Leech, 1993: 280). “What are we call a sentence or an utterance of this type? I propose to call it a performative sentence or a performative utterance , or, for short, a performative” (Austin, 1968: 6).  Penolakan merupakan salah satu bentuk dari realisasi tindak tutur. Timbulnya penolakan karena adanya ketidaksesuaian atau keengganan sebagai reaksi mitra tutur dari penutur. Penolakan juga termasuk tindak negasi terhadap ajakan, tawaran, dan permintaan/permohonan. Namun, penolakan alangkah lebih baiknya dengan mengindahkan kaidah-kaidah kesopanan. Hadirnya kesantunan penolakan untuk menjaga perasaan dari penutur. Dengan kata lain mitra tutur mesti memegang prinsip tenggang rasa (lihat Aziz, 2001b). Salah satu tindak komunikasi yang memungkinkan seorang mitra tutur kehilangan muka adalah dalam tindak tutur penolakan, yaitu ketika seorang penutur mesti mengatakan TIDAK kepada mitra tuturnya (Aziz, 2001a).
Berbagai bentuk penolakan bisa mengancam wajah jika struktur bahasa yang digunakan ‘kasar’ atau ‘langsung’. Sebenarnya, kemungkinan ‘hilang wajah’ akibat sebuah permintaannya ditolak adalah hal yang harus diantisipasi sejak awal oleh seorang penutur (Aziz, 2003).  Itu akan lain halnya jika penolakan menggunakan strategi santun, sehingga bisa menjaga atau menyelamatkan muka penutur atau mitra tutur karena penolakan dekat sekali jaraknya dengan pengancaman muka. Dengan demikian, penggunaan strategi kesopanan dalam penolakan bisa menjadi salah satu etika moral dalam sebuah komunitas bahasa. Studi penolakan juga berkaitan dengan apa yang dilakukan oleh pelibat dalam komunikasi. Pelibat (penutur dan mitra tutur) dipengaruhi oleh usia, status sosial, dan power distance. Aziz pun (2001a:15) menyatakan bahwa ada realisasi kesantunan yang berbeda antara penutur ditinjau dari jenis kelamin, usia, jarak sosial (peranan penutur dalam percakapan). Strategi penolakan akan berbeda ketika memasuki ranah-ranah tersebut. Hal tersebut bisa diidentifikasi berdasarkan pilihan diksi serta konstruksi bahasa yang berbeda—baik atasan-bawahan; tua-muda. Tipe ungkapan penolakan tersebut dapat berupa penolakan yang sopan (positif) maupun penolakan yang tidak sopan’ (Rijadi, 2001).

2.      Isi Jurnal

Dalam jurnal “Strategi Kesantunan Tindak Tutur Penolakan dalam Bahasa Makasar” ini mengemukanan strategi tindak tutur penolakan dalam bahasa Makasar. Penelitian tersebut beranjak dari hubungan berbahasa dengan kaidah atau norma sosial (lihat Arisnawati, 2012). Berdasarkan itulah, bahwa penutur menghadapi mitra tutur sebagaimana manusia memandang manusia—bukan manusia dengan mesin. Dengan kata lain habluminannas. Dalam penelitian mengenai kesantunan dalam penolakan yang dilakukan oleh Arisnawati (2012) ini mempunyai rumusan penelitian yaitu bagaimana strategi penolakan dalam bahasa Makasar.
Penelitian itu juga mengedepankan aspek sosiopragmatik. Sebelum lebih jauh, Tarigan (2009) memerikan pragmatik umum dibagi menjadi, pragmalinguistik dan sosiopragmatik. Namun kerangka pemikiran dalam penelitian Arisnawati mengedepankan aspek sosiopragmatik karena erat kaitannya dengan kondisi sosial. Itu juga menandakan bahwa penggunaan bahasa pada ragam masyarakat bahasa. Selain itu, penelitian ini juga mengutip dari Aziz (2001b) mengenai prinsip saling tenggang rasa. Untuk lebih jelasnya, di bawah ini akan diberikan kutipan mengenai prinsip tenggang rasa.

Prinsip Saling Tenggang Rasa ‘The Principle of Mutual Consideration’ (PMC) dapat dirumuskan sebagai berikut

a)      Terhadap mitra tutur Anda, gunakanlah bahasa yang Anda sendiri pasti akan senang mendengarnya apabila bahasa itu digunakan orang lain kepada Anda;
dan sebaliknya
b)      Terhadap mitra tutur Anda, janganlah menggunakan bahasa yang Anda sendiri pasti tidak akan menyukainya apabila bahasa tersebut digunakan orang lain kepada Anda. (Aziz, 2001b).

Oleh karena itu, prinsip tenggang rasa merupakan salah satu teori penting terhadap pendekatan pragmatik (khususnya kesantunan). Prinsip tersebut tidak hanya mementingkan diri sendiri, tetapi juga mengindahkan mitra tutur. Sekaitan dengan hal penolakan, masyarakat Makasar sangat mempertimbangkan tatanan masyarakat dan hubungan antarpribadi, sehingga prinsisp saling menghargai dan menghormati secara langsung tampak dalam realisasi pertuturan menolak yang mereka buat (Arisnawati, 2012). Dan metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode deskripif kualitatif. Data yang dikumpulkan dengan teknik menyimak, wawancara, teknik pencatatan, perekaman, dan libat cakap (bandingkan dengan Aziz, 2001a; Santoso, Widayanti, Astuti, 2010; dan Mukhamdanah, 2011).
Penelitian mengenai penolakan pada kelompok berbahasa pertama Indonesia, Sunda, Jawa, Minang, Batak, dll pernah dilakukan oleh Aziz (2001c). Penelitian lain mengenai penolakan dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia menghasilkan penolakan dengan satu sampai lima macam tindak tutur penolakan (Nadar, Wijana, Poedjosoedarmo, dan Djawanai, 2005). Penelitian serupa mengenai penolakan dalam bahasa Banjar secara umum berupa kalimat imperatif dan kalimat deklaratif (Jahdiah, 2011). Lantas, dalam pembahasan penelitian ini mengidentifikasi enam cara tindak tutur penolakan yang digunakan dalam bahasa (orang) Makasar yaitu didahului ‘permintaan maaf’, ‘terima kasih’, ‘ usulan’, ‘implisit’, ‘memberi syarat’, dan ‘menyandarkan alasan pada pihak ketiga’ (Arisnawati, 2012). Pertama, untuk penolakan dengan ‘permintaan maaf’ dalam bahasa Makasar didahului dengan kipamopporangak  yang artinya ‘maafkan saya’. Dalam bahasa Sunda ‘hapunten … (dengan pronomina)’, ‘hapunten pisan Bapa’, ‘hapunten pisan Bapa mugia teu janten renggat panggalih … ’ ‘alah hapunten’, ‘punten’, dan ‘hapunten nya’. Beberapa ungkapan maaf dalam bahasa Sunda tersebut memiliki derajat kesantunan yang berbeda. Untuk lebih jelas di bawah ini akan diperikan contoh penolakan dalam bahasa Makasar yang didahului oleh permintaan maaf.

(1) Kipamopporangak, ka niak kujama.
‘maafkan saya, ada saya kerja’
(Saya mohon maaf, saya ada kerjaan.)
(2) Tabek, tena nakukaluruk.
‘maaf, tidak saya merokok’
(Maaf, saya tidak merokok)
(3) Sori, tena nakungerang kado.
‘maaf,tidak saya bawa kado’
(Maaf, saya tidak bawa kado.)

(Arisnawati, 2012).

Menurut penulisnya, penolakan yang didahului oleh permintaan maaf memiliki tingkat kesantunan yang tinggi. Kedua, untuk penolakan yang didahului dengan ucapan terima kasih atau tarima kasik. Dalam bahasa Sunda ‘hatur nuhun’, ‘ngahaturkeun nuhun’, dan ‘nuhun’. Ucapan terima kasih bisa dikatagorikan sebagai kompensasi perasaan dari negasi. Penolakan ini menurut penulisnya dikatagorikan sebagai penolakan yang santun. Untuk lebih jelas di bawah ini akan diperikan contoh penolakan dalam bahasa Makasar yang didahului oleh terima kasih.

            (4) Tarima kasik ,ammanimi ballakku.
‘terima kasih, dekat sudah rumahku’
(Terima kasih, rumahku sudah dekat.)
(5) Tarima kasik, niakmo bokbokku singkamma antu.
‘terima kasih, ada sudah bukuku seperti itu’
(Terima kasih, bukuku sudah ada yang seperti itu.)

(Arisnawati, 2012).

Ketiga, penolakan dengan menggunakan usulan. Cara penolakan seperti ini terbilang setengah karena ada kemungkinan tidak menjadi negasi apabila usul yang disampaikan oleh mitra tutur dipenuhi. Cara ini memiliki kadar kesantunan normal. Dalam bahasa Sunda ‘kumaha upami’, ‘saleresna mah kieu’, ‘sakedahna’, dan ‘saena’. Untuk lebih jelas di bawah ini akan diperikan contoh penolakan dalam bahasa Makasar yang didahului oleh usulan.

            (8) Antekamma punna allo sannengmo bawang.
‘Bagaimana kalau hari senin saja’
(Bagaimana kalau hari senin saja.)
(9) Kattemo bawang mange ammalliangngi susu.
‘kamu saja pergi belikan dia susu’
(Kamu saja yang pergi membelikannya
susu.)

(Arisnawati, 2012).

Keempat, penolakan dengan menggunakan cara implisit. Dengan kata lain struktur bahasa tidak langsung bermakna menolak—misal strukturnya satu maknanya tidak melulu satu tetapi dua. Dalam bahasa Sunda cara seperti ini lazim dengan ‘katawisna sesah hurung’, ‘muhun abdi oge milari’, dsb. menurut penulisnya, cara seperti ini seringkali dilakukan terhadap sesame/sebaya. Untuk lebih jelas di bawah ini akan diperikan contoh penolakan dalam bahasa Makasar yang menggunakan cara implisit.

            (10) Erok tongi kupakei jappa-jappa.
‘mau juga saya pakai jalan-jalan’
(Saya juga mau pakai jalan-jalan.)
(11) Nalakbusuk tommi doekku.
‘mau habis juga uang saya’
(Uangku juga sudah mau habis.)
(12) Erok tonga Massetterika
‘mau juga saya menyetrika.’
(Saya juga mau menyetrika.)

(Arisnawati, 2012).

Kelima, penolakan dengan memberi syarat atau kondisi. Cara seperti ini sepertinya hampir sama dengan penggunaan ususan. Menurutnya cara seperti ini dalam bahasa Makasar terbilang cukup halus. Dalam bahasa Sunda lazim ‘upami dicumponan’, ‘kedah kieu mah’, dsb. Untuk lebih jelas di bawah ini akan diperikan contoh penolakan dalam bahasa Makasar yang menggunakan syarat atau kondisi.

            (13) Cobak teai fisika, kullejak kutadeng anjamai.
‘seandainya bukan fisika, bisa saya barangkali mengerjakannya.’
(Seandainya bukan fisika, barangkali saya bisa mengerjakannya.)
(14) Punna gassing-gassingjak.
‘Kalau sehat-sahat saya.’
(Kalau saya sehat-sehat.)
(15) Anu, punna tettereki lekbak jamangku ri ballak.
‘anu, kalau cepat dia selesai kerjaan saya di rumah’
(Anu, kalau kerjaan saya di rumah cepat selesai.)
(16) Anu, punna tetterekjak ammoterek battu r sikolayya.
‘anu, kalau cepat saya pulang dari sekolah’
(Anu, kalau saya cepat pulang dari sekolah.)

(Arisnawati, 2012).

Keenam, penolakan dengan menyandarkan alasan pada pihak ketiga. Dengan kata lain melemparkan kepada lain pihak. Cara seperti ini dalam paling banyak dilakukan oleh masyarakat Makasar. Dalam bahasa Sunda bisa ‘cobi ka dinya’, ‘ke sakedap urang taroskeun heula’, ‘alah saur pun …’, dsb. Untuk lebih jelas di bawah ini akan diperikan contoh penolakan dalam bahasa Makasar dengan menyandarkan alasan pada pihak ketiga.

            (17) Teai otoku, mingka anjo otona Ridwan.
‘bukan mobil saya, tetapi itu mobilnya Ridwan’
(Bukan mobilku, tetapi itu mobilnya Ridwan.)
(18) Teai payungku Daeng, mingka payungnya Besse.
‘bukan payung saya Kak, tetapi payungnya Besse’
(Bukan payungku Kak, tetapi payungnya Besse.)
(19) Lekbak nainrang rioloangi otowa i Tina.
‘sudah dia pinjam duluan dia mobil si Tina’
(Mobilnya sudah dipinjam duluan oleh Si Tina.)

(Arisnawati, 2012).


3.      Komentar

Simpulan dari penelitian Arisnawati (2012) mengenai “Strategi Kesantunan Tindak Tutur Penolakan dalam Bahasa Makasar” berhasil mengaitkan argument-argumennya antara teori dan analisisnya. Akan tetapi, perluasan dari teori sosiopragmatik kurang terlihat dalam penganalisisan data. Dengan demikian, kiranya akan lebih sempurna andaikata bagaimana perilaku berbahasa masyarakat tutur dengan kondisi latar di mana bahasa tersebut digunakan.
 Dalam pembahasan, penulis juga tidak menyertakan konteks kapan, di mana, siapa, dan tujuannya untuk apa. Lebih tepatnya tidak terlihat SHUC atau speaker, hearer, utterance, and co(n)text. Selain itu ada beberapa hal yang bersifat umum yakni penentuan keenam kategori tersebut tidak diidentifikasi berdasarkan jenis kelamin dan usia (bandingkan dengan Aziz, 2001a; dan Sukma, Agustina, Usman, 2012).

4.      Penutup

Penelitian ini mengidentifikasi enam jenis penolakan dalam bahasa Makasar. Barangkali bisa lebih jika dilakukan dalam bahasa daerah lainnya. Dalam penelitian ini pula ada penolakan yang mengambang, samar-samar/ragu-ragu seperti sinampekpi nicinikki ‘nanti dilihat’, kutadeng ‘mungkin’ (lihat Arisnawati, 2012). Strategi samar-samar dalam membuat penolakan juga ditunjukkan oleh orang Thailand (Deephuengton, 1992 dalam Aziz, 2001b).
Penolakan secara langsung dalam bahasa Makasar hanya akan terjadi ketika dalam keadaan yang mendesak. Ada juga strategi penolakan yang terkesan samar-samar. Itu bisa dilihat dan dijelaskan dengan pendekatan yang diberikan oleh Aziz (2001b) ‘akan dapat dijelaskan dengan mudah manakala kita berpaling pada PMC/prinsip saling tenggang rasa’. Agaknya tindak tutur penolakan merupakan serangkaian tanda bahwa kita sebagai manusia selalu mempunyai sebuah pilihan. Antara ‘ya’ dan ‘tidak’ seperti pasangan yang sesuai dengan semestinya.

Daftar Pustaka

Abdurrahman. 2006. Pragmatik: Konsep Dasar Memahami Tuturan. Lingua edisi-2006/5-vol-1-no-1/31.Tersedia:http://www.jurnallingua.com/edisi-2006/5-vol-1-no-1/31-pragmatik-konsep-dasar-memahami-konteks-tuturan.html

Arisnawati, Nurlina. 2012. Strategi Kesantunan Tindak Tutur Penolakan dalam Bahasa Makasar. Sawerigading, No1, April 2012, pp. 113-120.

Austin, J.L. 1968. How to Do Things with Words. United States of America: Harvard University Press.

Aziz, E. Aminudin. 2001a. Gaya Ki Sunda mengatakan “TIDAK”: Sebuah Telaah  Sosiolinguistik terhadap Variabel Sosial yang Mempengaruhi Realisasi Kesantunan dalam Pertuturan Menolak oleh Orang Sunda. Makalah disampaikan pada Konferensi Internasional Budaya Sunda (KIBS) I, Bandung, 22-25 Agustus 2001.

Aziz, E. Aminudin. 2001b. “Aspek-Aspek Budaya yang Terlupakan dalam Praktek Pengajaran Bahasa Asing”. Makalah pada KIPBIPA IV, Denpasar, 1-3 Oktober 2001.

Aziz, E. Aminudin. 2001c. Realisasi Tindak Tutur Menolak dalam Masyarakat Indonesia: Kajian dari Perspektif Kesantunan Berbahasa. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni, Vol 1, no.1, 2001.

Aziz, E. Aminudin. 2003. Pragmatik Lintas Budaya. In A. Chaedar Awalsilah & Hobir Abdullah (editor). 2003. Revitalisasi Pendidikan Bahasa: Mengungkap tabir bahasa demi peninkatan SDM yang kompetitif.  Bandung: Andira

Jahdiah. 2011. Ungkapan Penerimaan dan Penolakan dalam Bahasa Banjar. Sawerigading, No. 3, Desember 2011, pp. 405-412.

Leech, Geoffrey. 1993. Prinsip-Prinsip Pragmatik. Penerjemah M.D.D. Oka. Jakarta: Universitas Indonesia.

Mukhamdanah. 2011. Realisasi Kesantunan Berbahasa pada Etnik Jawa Saat Menyampaikan Penolakan. Metalingua, Vol. 9, No. 1, Juni 2011, pp. 59—72.

Nadar, F. X., Wijana, I Dewa Putu., Poedjosoedarmo, Soepomo., Djawanai, Stephanus. (2005). Penolakan dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Humaniora Vol. 17, No. 2 Juni 2005, pp. 166-178.

Rijadi, Arief. 2001. “Ungkapan Penerimaan dan Penolakan dalam Bahasa Indonesia”. Makalah pada KIPBIPA IV, Denpasar, 1-3 Oktober 2001.

Santoso, W. J., Widayanti, D. V. & Astuti, D. 2010. Bentuk, Strategi, dan Kesantunan Tindak Tutur Menolak dalam Interaksi Antarmahasiswa Prodi Sastra Prancis FBS Unnes. Lingua VI, Juli 2010.

Sukma, F. R., Agustina, & Ngusman. 2012. Kesantunan Berbahasa Mingangkabau dalam Tindak Tutur Menyuruh di Kenagarian Tambang Kecamatan IV Jurai Kabupaten Pesisir Selatan. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Vol. 1 No. 1 September 2012; Seri G 515 - 599 532, tersedia:
ejournal.unp.ac.id/index.php/pbs/article/download/449/373

Tarigan, H.G. 2009 . Pengajaran Pragmatik. Bandung: Angkasa Bandung.

Wiryotiyono, Mujiyono. 2006. Analisis Pragmatik dalam Penelitian Penggunaan Bahasa. Bahasa dan Seni, Tahun 34, No. 2, Agustus 2006, pp. 153-163.

sasieur sajak sunda


sasieur sajak sunda

ku 
Ardi Mulyana Haryadi

tapi lamun panon poe ragrag cahyana ka marcapada
kayaning waktu anu lingsir ngadahup sajeungkal tina pirambut salira
heh, nya kitu deui samar kecap pikoredaseun kana acining ati nu ngajati dina harti
dina sawatara bentang gumujeng enggoning na lamunan
reup bray, reup bray, paneunteu nu burahayna lir ibarat wulan opat welas tinggalebray
gulungkeun ieu sajak ku pameunteu anjeun
dina mangsa piwuruk teu kirang ti kuring ka anjeun
nyai, ulah rek baeud, angin tinggilisir, daun tingkorosak
ulah rek jumawa miceun kaasih nu waas tenjona, nu gagas raheutna
ayeuna kahayang teu kacumponan nu baheula dimumule
ayeuna ngan ukur tumpur kasered caah
kiwari, ngan ukur beja
anjeun di mana, anjeun di mana
nyesakeun carita nu kungsi raheut pageuh kaya saperti leugeut dina rokrak
heh, dangdaunan tinggurupay ningali mayapada kumelendang sorangan
ngahiuk kahimpe tina langit garut turun kahayang
bareto jeung ayeuna sarua tenjona

Garut, 2013

PENERJEMAHAN SEBAGAI AKTIVITAS LINGUISTIK SERTA SARANA KONTAK BUDAYA DAN BAHASA


Ardi Mulyana Haryadi
Program Linguistik Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia


PENDAHULUAN

Ada dua kajian utama dalam studi linguistik, pertama bahasa lisan dan kedua bahasa tulis. Bahasa lisan menjadi objek kajian primer, sedangkan bahasa tulis menjadi objek kajian sekunder. Namun, permasalahan bahasa tidak hanya berkutat pada unsur-unsur linguistik inti saja. Ada beberapa permasalahan semantik dan pragmatik yang memerlukan tempat tersendiri dalam proses berbahasa terutama pada kegiatan penerjemahan. Penerjemahan atau alih bahasa melibatkan dua buah bahasa—dua buah kompetensi dan performansi bahasa. Seorang penerjemah baik lisan maupun tulisan mutlak mesti menguasai kompetensi dan performansi bahasa sumber dan bahasa taget. 
Sebagaimana telah disebutkan, penerjemahan merupakan kegiatan yang melibatkan aspek kompetensi dan performansi berbahasa. Kedua istilah tersebut merupakan istilah dari tatabahasa generatif transformasi yang digagas oleh Chomsky. Kompetensi dan performansi sangat penting dalam proses penerjemahan karena seorang penerjemah mesti memiliki pengetahuan bahasa yang baik, baik mengenai bahasa sumber dan bahasa sasaran. Ketika kompetensi seorang penerjemah baik maka setidaknya ia memiliki performansi yang baik pula—idealnya seperti itu. Kompetensi merupakan pengetahuan bahasa, sedangkan performansi merupakan tingkah laku linguistik (lihat Poole, 2002). Akan tetapi, selain kedua aspek tersebut ada satu aspek yang mutlak harus dikuasai seorang penerjemah yaitu aspek budaya. Ketika berbicara budaya, sekaligus pula berbicara bahasa dan begitu pula sebaliknya.

BAHASA DAN BUDAYA

Dalam studi linguistik dikenal dua hipotesis yang saling berlawanan pandangannya mengenai bahasa dan budaya. Mereka adalah Wilhelm von Humbolt dengan pandangannya bahwa kebudayaan yang mempengaruhi bahasa, sedangkan Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf dengan pandangannya bahwa bahasa mempengaruhi cara berpikir masyarakat dalam berbudaya. Sapir berpandangan bahwa untuk mengetahui bagaimana bahasa itu bekerja sebaiknya ditanyakan pada penuturnya sendiri (Sampson, 1980).
Kedua hipotesis tersebut sampai sekarang masih menjadi topik kajian linguistik para linguis. Karena itu, kedua hipotesis tersebut masih diperdebatkan sehingga muncullah istilah relativitas bahasa. Akan tetapi, dalam banyak literatur hipotesis yang banyak diikuti ialah hipotesis von Humbolt.  Sebagai linguis seyogianya berpandangan deskriptif mestilah menjadikan itu sebagai ladang empiris guna melakukan pelbagi penelitian linguistik.

PENERJEMAHAN SEBAGAI AKTIVITAS LINGUISTIK

Subjudul ini dapat dibandingkan dengan “penerjemahan sebagai produk dan sebagai proses” (periksa Machali, 2009). Menurut Machali (2009: 30) “pembedaan antara produk dan proses ini penting dalam kegiatan kegiatan penerjemahan. Apabila kita melihat penerjemahan sebagai proses, berarti kita meniti jalan yang dilalui penerjemah untuk sampai pada hasil akhir.” Akan tetapi penulis memilih “aktivitas linguistik” karena memang tulisan ini kental dengan aroma linguistik. “Penerjemahan merupakan proses pengungkapan makna bahasa sumber di dalam bahasa penerima” (az-Zarqani, 1998; Didawi, 1992; Catford, 1965; Nida dan Taber, 1982; dalam Syihabuddin, 2011: 149).  Disadari atau tidak, seorang penerjemah ketika menerjemahkan bahasa sumber ke bahasa sasaran adalah kegiatan linguistik. Itu melibatkan pengetahuan bahasa.
Pengetahuan bahasa akan sempurna ketika dipadukan dengan pengetahuan budaya. Penerjemahan yang baik ialah penerjemahan yang membawa aspek budaya bahasa sumber yang direkonstruksi ke dalam bahasa sasaran. Mengapa direkontruksi? Penulis beranggapan bahwa tidak mudah menyamakan satu budaya dalam satu bahasa ke dalam budaya dalam bahasa lainnya. Maka dari itu, pentingnya komunikasi lintas budaya menjadi salah satu mazhab yang tidak boleh ditinggalkan oleh seorang penerjemah. Sebagaimana layanan penerjemahan yang dikembangkan di Australia yang memperhatikan keanekaragaman budaya (periksa Bowe dan Martin, 2009).
            Penulis berpandangan bahwa penerjemahan sebagai aktivitas linguistik tidak hanya melibatkan kemampuan sama baiknya dalam bahasa sumber dan bahasa sasaran. Alangkah baiknya seorang penerjemah memiliki rasa seni sehingga hasil terjemahan hampir identik baik dari segi semantik, pragmatik, dan budaya. Menurut Newmark (1988: 4) “a translator has to have a flair and a feel for his own language. There is nothing mystical about this ‘sis sense’, but it is compounded of intelligence, sesnsitivity, and intuition, as well as of knowledge” (Seorang penerjemah mesti memiliki bakat dalam merasakan bahasanya sendiri. Tidak ada istilah mistik atau indra keenam di dalamnya. Akan tetapi itu lebih dipengaruhi oleh intelegensi, sensitivitas, dan intuisi seperti halnya pengetahuan). Ini jelas bahwa seorang penerjemah melakukan kegiatan penerjemahan sebagai kegiatan linguistik karena melibatkan pengetahuan bahasa (kompetensi) sebagai dasar dalam proses penerjemahan bahasa sumber ke bahasa target.
            Proses penerjemahan juga merupakan proses komunikasi. Proses komunikasi hampir selalu melibatkan lintas bahasa juga lintas budaya. Sekaitan dengan hal tersebut, proses penerjemahan berperan dalam transmisi budaya, dan di dalam sebuah kondisi yang tidak sama terjemahan berusaha menghilangkan bias (Newmark, 1988). Dengan demikian, penerjemahan berusaha menyatukan dua budaya tanpa menghadirkan bias atau ideologi tertentu. Tentunya hasil terjemahan mestilah murni makna ke makna tanpa adanya makna tambahan yang dirasa tidak perlu. Menurut Syihabuddin (2011: 148) “dalam konteks Indonesia, pada umumnya penerjemah memulai profesinya berdasarkan pengetahuan seadanya, bukan berdasarkan teori penerjemahan yang dikuasainya.” Maka dari itu, selain penguasan budaya, penerjemah sendiri mestilah menguasai teori-teori penerjemahan. Teori membantu membongkar kesulitan-kesulitan yang tidak bisa dihadapi berdasarkan pengalaman empiris.

METODE-METODE DALAM PENERJEMAHAN

Selain pengalaman seorang penerjemah dalam kegiatan penerjemahan, ada salah satu aspek penting yang tidak boleh dilupakan yakni teori. Teori dapat membantu penerjemah dalam kegiatannya sebagai aktivitas linguistik. Dalam teori serta praktek penerjemahan dikenal beberapa pendekatan/metode. Newmark (1988; dalam Machali, 2009: 76) “mengajukan dua kelompok metode penerjemahan, yaitu (1) metode yang memberikan penekanan terhadap bahasa sumber (Bsu); (2) metode yang memberikan penekanan terhadap bahasa sasaran.” Dua metode tersebut mempunyai kepentingan masing-masing. Metode pertama menekankan pada aspek bahasa sumber, sedangkan metode yang satunya lagi menekankan pada bahasa target.
Sekaitan dengan hal tersebut, penekanan keduanya haruslah memperhatikan koherensi, judul, kohesi dialog, pungtuasi, efek bunyi, kohesi, sinonim, dsb (periksa Newmark, 1988). Meskipun proses terjemahan mesti melibatkan aneka aspek tersebut, aspek budaya atau paham budaya bisa menyempurnakannya. Machali (2009) juga mengajukan beberapa pendekatan seperti penerjemahan kata-demi-kata, penerjemahan harfiah, penerjemahan setia, penerjemahan semantis, adaptasi, penerjemahan bebas, penerjemahan idiomatik, dan penerjemahan komunikatif. Apa pun metode yang digunakan mestilah menghasilkan terjemahan yang berkualitas. Kualitas sebuah terjemahan bisa dilihat dari isi dan representasi budaya yang terkandung di dalamnya.

PENUTUP

Sebagaimana yang telah dipaparkan di atas, bahwa penerjemahan sebagai aktivitas linguistik tidak lepas dari peran pengalaman serta teori yang dianut oleh sang penerjemah. Kecakapan linguistik serta pemahaman budaya akan sangat membantu dalam menghasilkan terjemahan yang murni dan berkualitas. Jika mengingat kegiatan penerjemahan antarbahasa daerah ke bahasa nasional, misalnya saja bahasa Sunda ke bahasa Indonesia permasalahan transfer budaya tidak terlalu renggang. Akan tetapi jika lintas negara/bahasa asing akan sangat renggang mengingat tingkat  multikultural yang berbeda. Persoalan budaya terkait kegiatan penerjemahan memang salah satu aspek utama yang mempengaruhi kualitas sebuah terjemahan. Dalam mempertimbangkan soal sosial budaya kita harus membedakan masalah denotatif dan konotatif dalam terjemahan (Newmark, 1988).

REFERENSI

Bowe, Heather., & Martin, Kyle. (2009). Communication Across Cultures. Cambridge: Cambridge University Press.

Machali, Rochayah. (2009). Pedoman Bagi Penerjemah. Jakarta: Grasindo.

Newmark, Peter. (1988). A Textbook of Translation. New York: Prentice Hall.

Poole, Geoffrey. (2002). Syntactic Theory. New York: Palgrave.

Sampson, Geoffrey. (1980). School of Linguistics. London: Hutchinson.

Syihabuddin. (2011). Pendidikan dan Bahasa dalam Perspektif Islam. Bandung: Rizqi Press.


Sponsor

Tulisan Populer

Pengunjung dalam Jaringan

U-ON