Komparasi Lintas Linguistik Pola Word Order dalam Subrumpun Melayu-Sumbawa*


Ardi Mulyana Haryadi
Universitas Pendidikan Indonesia
ardimulyana87@yahoo.com

Abstrak
Artikel ini menyoroti tentang komparasi linguistik word order dalam bahasa Aceh, Nias, dan Sunda. Komparasi tersebut ditinjau dari segi klausa relatif dan frasa numerelia. Pendekatan yang digunakan yakni pendekatan Dryer (1997) dengan kerangka minimalis generatif. Klaim Dryer (2013a) terhadap bahasa Aceh yaitu tidak memiliki pola yang dominan dari segi word order, sedangkan bahasa Nias berpola VOS, dan bahasa Sunda berpola SVO. Dari segi klausa relatif, ketiga bahasa tersebut memiliki kecenderungan pola yang sama. Akan tetapi dari segi frasa numerelia terdapat sedikit perbedaan. Perbedaan tersebut khususnya pada struktur frase numerelia bahasa Sunda. Secara umum kecenderungannya NumN, namun pola NNum juga setidaknya berlaku.
Kata kunci: lintas linguistik, word order, melayu sumbawa



*Makalah ini disajikan pada Seminar Tahunan Linguistik Universitas Pendidikan Indonesia 2016 Tingkat Internasional

Plagiarisme Akademik

oleh
Ardi Mulyana Haryadi


A. Pendahuluan
Plagiarisme atau plagiat merupakan isu yang berkaitan dengan dunia akademik. Plagiarisme diibaratkan mencuri ide atau mengakui ide/gagasan seseorang tanpa merujuk pada sumber aslinya. Tindakan seperti itu dalam dunia akademik “haram hukumnya.” Pantangan tersebut ditujukan bagi semua sivitas akademik guna menjaga otoritas keilmuan seseorang. Dalam tradisi pengetahuan, kutip-mengutip merupakan hal yang lumrah dan wajar. Akan tetapi mesti dilakukan dengan mencermati tata aturan atau kaidah pengutipan yang berlaku. Mengutip ide/gagasan orang untuk memperkuat argumentasi kita memang perlu dilakukan.
Hal tersebut ibarat silaturahmi akademik guna memperkuat khazanah pengetahuan. Kita bisa mengakui atau tidak bahwasanya dalam ilmu pengetahuan terutama dalam penelitian tidak ada sesuatu yang relatif baru. Sedahsyat apa pun penelitian, maka itu harus mengisi rumpang penelitian sebelumnya. Singkat kata, mengisi kekosongan dalam pengetahuan. Oleh karena itu mengutip ide orang lain tidaklah bisa dihindarkan.

B. Tinjauan Singkat Tentang Plagiarisme
Linguis memandang plagiarisme sebagai salah satu ujud teks guna pembuktian yang berkaiatan dengan ketentuan hukum. bagaimanapun definisi mengenai plagiarisme menjadi salah satu isu penting bagi linguis (Olsson, 2008). Linguistik forensik sebagai disiplin ilmu dapat mengejawantahkan beragam bentuk plagiarisme dan bagaimana itu dilakukan. Banyak upanya yang dilakukan untuk mendeteksi tindakan plagiarisme. Salah satunya adalah membuat perangkat lunak antiplagiat. Akan tetapi linguistik forensik memiliki metode yang lain untuk mengungkap apakah sebuah teks mengandung unsur plagiat atau tidak.
            Menurut Permendiknas No. 17 Tahun 2010 plagiat adalah perbuatan secara sengaja atau tidak sengaja dalam memperoleh atau mencoba memperoleh kredit atau nilai untuk suatu karya ilmiah, dengan mengutip sebagian atau seluruh karya/dan atau karya ilmiah pihak lain yang diakui sebagai karya ilmiahnya , tanpa menyatakan sumber secara tepat dan memadai. Jadi pemerintah melalui peraturan menterinya sudah jelas mengatur ketentuan hukum mengenai plagiarisme. Misalnya mahasiswa dan dosen terindikasi melakukan tindakan plagiat dapat dikenai sanksi dari berupa teguran hingga pembatalan gelar dan ijazah. Itu tentu merupakan kesalahan yang sangat fatal.
            Di bawah ini akan dipaparkan beberapa tipe plagiarisme seperti yang dikutip dari (sumber :http://plagiarism.org/plagiarism-101/types-of-plagiarism/)
- Clone                   : menjiplak karya tulis seseorang kata per kata dan diaku sebagai karya sendiri
- CTRL-C          : menjiplak sebagian karya tulis orang lain hanya dari satu sumber tanpa adanya perubahan
- Find-Replace      :  mengubah kata kunci dan kalimat tetapi tetap tidak mengubah substansi utama                                    suatu sumber
- Remix                 : menyusun kalimat kembali dari berbagai sumber menjadi suatu karya tulis
- Recycle               : menggunakan karya terdahulu penulis tanpa sitasi (self plagiarism)
- Hybrid                : meramu secara sempurna sumber-sumber sitasi dengan jiplakan kalimat tanpa                                       menyebutkan sumbernya
- Mash-Up            : menggabungkan salinan materi dari berbagai sumber
- 404 Eror             : penulis mencantumkan sitasi yang tidak ada atau keliru sebagai sumber informasi
- Agregator          : penulis melakukan sitasi dengan benar dari sumber-sumber informasi, tetapi isinya                               tidak mengandung orisinalitas penulisnya
- Re-tweet           : mencamtumkan sumber sitasi, namun penulis menyitasi struktur kalimat atau kata-                              kata yang sangat mirip dengan aslinya
Tipe-tipe plagiarisme di atas merupakan sebaran dari berbagai tipe plagiarisme yang disalahgunakan oleh penulisnya. Disadari atau tidak plagiarisme terjadi secara sengaja atau tidak disengaja. Jika dilakukan dengan sengaja akan berakibat fatal terhadap penulisnya. Meski demikian tindakan plagiarisme yang dilakukan secara tidak disengaja bukan berarti tidak mendapatkan konsekuensi. Maka dari itu kehati-hatian dalam menulis patut menjadi perhatian yang serius dalam dunia akademik.

C. Tinjauan Kritis Terhadap Plagiarisme
Tindakan plagiarisme bisa membawa bencana akademik bagi pelakunya. Oleh sebab itu perlu diketahui apa-apa saja tindakan yang termasuk dalam plagiarisme. Di bawah ini akan dikemukakan tindakan yang termasuk plagiarisme seperti yang dikutip Stowers dan Hummel (2011 p. 165 dalam Sukyadi mengenai Petunjuk Teknis Pencegahan Plagiat Universitas Pendidikan Indonesia).
1) mengacu dan/atau mengutip istilah, kata-kata atau kalimat, data dan/atau informasi dari suatu sumber tanpa menyebutkan sumber dalam catatan kutipan dan/atau tanpa menyatakan sumber secara memadai,
2) mengacu dan/atau mengutip secara acak istilah, kata-kata dan/atau kalimat, data dan/informasi dari suatu sumber tanpa menyebutkan sumber dalam catatan kutipan dan/atau tanpa menyatakan sumber secara memadai,
3) menggunakan sumber gagasan, pendapat, pandangan atau teori pihak lain tanpa menyatakan sumber acuan secara memadai,
4) merumuskan dengan kata-kata dan/atau kalimat sendiri kata-kata dan/atau kalimat, gagasan, pendapat, pandangan, atau teori orang lain tanpa menyetakan sumbernya secara memadai,
5) menyerahkan sebuah karya ilmiah yang dihasilkan dan/atau telah dipublikasikan oleh pihak lain sebagai karya ilmiahnya tanpa menyatakan sumbernya secara memadai,
6) tidak memberikan sumber kutipan pada tanda kutip,
7) mengubah kata-kata namun menyalin struktur kalimat dari sebuah sumber tanpa menyebutkan rujukannya,
8) menyalin secara berlebihan kata atau gagasan dari sebuah sumber yang membangun sebagian besar sebuah karya walau menyebutkan rujukannya,
9) memparafrase sebuah sumber tanpa menyebutkan rujukannya secara benar,
10) mengumpulkan tugas yang nampak seperti diparafrase (dan berisi referensi) tetapi sebenarnya merupakan contekan langsung dari sumber aslinya,
11) penyalinan kalimat, frase, atau paragraf persis seperti sumber aslinya, penyalinan kalimat dan meyusunnya kembali dalam urutan yang berbeda, penyalinan kalimat dan menggantikan beberapa kata dengan sinonimnya, serta penyalinan kalimat dan menambahkan beberapa kata baru bila tanpa menyebutkan rujukan termasuk plagiat,
12) membeli, meminjam, atau menggunakan  makalah, artikel, skripsi, tesis, dan disertasi karya orang lain atas nama sendiri,
13) meminta orang lain untuk mengerjakan esei, makalah, skripsi, tesis, disertasi atau karya lainnya termasuk pengerjaan statistik,
14) menggunakan satu atau lebih karya orang lain dengan cara mengambil sebagian besar teks hanya dengan mengaitkannya satu sama lain dengan hanya sedikit kata-kata sendiri,
15) menggunakan sebuah tugas yang sudah diserahkan dan dinilai oleh dosen untuk tugas mata kuliah yang lain, dan
16) menggunakan kritikan atau pendapat orang lain dan menganggapnya sebagai pendapat atau kritikan sendiri.
            Jelaslah seperti yang diungkapkan di atas bahwa tindakan-tindakan tersebut merupakan tindakan plagiat. Oleh karena itu dengan mengetahui berbagai macam tindakan plagiat maka setidaknya para sivitas akademik dapat menghindarinya. Tetapi permasalahan lain muncul ketika sebuah karya tidaklah dapat murni karena disadari atau tidak di dalamnya bisa saja mengandung ide/gagasan orang lain. Maka dari itu guna menghindari plagiat disusunlah berbagai aturan baik berupa buku atau naskah mengenau tata cara merujuk sebuah karya. Akhirnya kembali lagi pada diri sendiri untuk legowo mau menyertakan nama orang lain pada karyanya sendiri. Bahwasanya sangat sulit menghindari plagiat secara tidak disengaja. Hal tersebut menjadi salah satu isu penting dalam dunia akademik. Ketika seorang akademisi berpikiran ide yang sama dan dituangkan dengan komposisi berbeda, apakah hal tersebut menjadi sebuah plagiat? Itu bisa menjadi perdebatan karena kesaamaan pemikiran mungkin saja terjadi.


Referensi

Olsson, John. (2008). Forensic linguistics: second edition. New York: Continuum.

Permendiknas No. 17 Tahun 2010, Tentang Pencegahan dan Penanggulangan Plagiat di Perguruan Tinggi.

Plagiarism Type. Diakses tanggal 25 April 2016 dari: plagiarism.org/plagiarism-101/types-of-plagiarism.


Sukyadi, Didi. (....) Petunjuk Teknis Pencegahan Plagiat: Universitas Pendidikan Indonesia.

Kakawihan Kaulinan Barudak: Aspek Budaya Sunda yang Terlupakan

Ardi Mulyana Haryadi

Bang kalima gobang...bang
Bangkong ditengah sawah..wah
Wahéy tukang bajigur...gur
Guru sakola désa....sa
Saban poé ngajar...jar
Jarum paranti ngaput...put
Putri anu gareulis....lis
Lisung kadua halu....lu
Luhur kapal udara....ra
Ragrag di Jakarta.....ta
Taun sabaraha....ha
Haji rék ka Mekah....kah
Kahar tujuh rébu....bu
Buah meunang ngala....la

Kakawihan dalam konteks kesundaan merupakan lagu pengiring sebuah permainan anak-anak Tatar Sunda. Tentu, kakawihan merupakan bagian dari produk sebuah kebudayaan. Karena itu, bahasa dan budaya adalah dua aspek yang saling mempengaruhi. Bagi masyarakat bahasa, aspek kebudayaan merupakan temali yang saling berhubungan. Hilangnya sebuah kebudayaan, maka hilang juga bahasa yang mengiringinya. Misalnya permainan sondlah sudah sangat jarang terlihat, maka istilah cebrek, depot, lasut juga hilang. Maka dari itu, hilangnya eksistensi sebuah kebudayaan biasanya digantikan oleh eksistensi kebudayaan lain. Disadari atau tidak, kebudayaan semakin lama akan mulai bergradasi mengikuti perkembangan zaman. Seyogianya, pemertahanan budaya dapat dilakukan dengan pelestarian bahasanya. Upaya pelestarian bahasa tidak bisa dilakukan individu per individu. Tetapi butuh usaha kolektif dari semua masyarakat bahasa untuk menyadari betapa pentingnya hal tersebut. Sayang kan, jika kita melihat kebudayaan dan bahasa yang mengiringinya mulai pensiun dari peradaban.

Tips Menulis Puisi

Ardi Mulyana Haryadi

Menulis puisi? Yakin? Menulis puisi tidak gampang, namun tidak susah juga. Coba kita amati lingkungan sekitar guna mencari ide/ilham! Ya, banyak sekali ide yang dapat dijadikan topik puisi, "Ide itu bersayap, maka tulislah agar ia tidak terbang" (A. Chaedar Alwasilah). Nah, dari ungkapan beliaulah kiranya tepat untuk menggambarkan pentingnya menuangkan ide--terutama ketika menulis puisi. Bagus atau tidaknya puisi kita, tidak masalah. Yang paling penting menulis, menulis, dan menulis. Berikut ada beberapa tips (berdasarkan pengalaman sendiri) untuk menulis puisi.

1. Terkadang kita harus sedikit aneh dan nyeleneh
2. Cari tempat yang dirasa nyaman
3. Merenunglah
4. Jangan lupa bawa pena dan kertas
5. Mulai menulis tentang hal di sekitar kita
6. Menulislah jangan pedulikan kalimat yang sudah ditulis
7. Lanjutkan menulis
8. Ulangi langkah 1 s.d 7 sampai puluhan kali, jika perlu ratusan kali

Menulis puisi perlu rasa sastra? Tidak juga. Tulis saja tanpa memikirkan hal itu. Kelak, tulisan kita sendirilah yang memberi rasa sastra/keindahan. Tulisan kita akan menjadi sebuah pribadi yang mewakili diri dalam bentuk keindahan. Ingat bahasa itu punya rasa, sama seperti kita.


Garekgok

Ku Ardi Mulyana Haryadi

har, rarupekna dunya
ku saha ruksana kahayang papada manusa

teuing ku saha
teuing di mana

dina enggoning hate nu estuning
teu paduli teu wawuh kacapiring
humaregung bae dina luhur jukut na lamping

na enya ku manusa
na enya ku teu rumasa

paguron teu jadi harti nu hariring
lamun teu bisa riksa diri anaking

na enya eta carita
nu bener eta kirata

humarurung na jero samping
ngaji diri ngaji rasa bati kayaning

Bandung, Oktober 2015

Tulisan Populer