Sabtu, 28 Juli 2012

Menyoal Teori Tanda dalam Kakawihan Barudak Sunda




Oleh Ardi Mulyana Haryadi

Kakawihan merupakan salah satu unsur budaya yang ada dalam masyarakat Sunda. Kakawihan ini lazim disenandungkan oleh anak-anak Sunda ketika memainkan suatu permainan (kaulinan). Dengan kata lain kakawihan disenandungkan untuk mengiringi sebuah permainan. Secara struktural bentuk kakawihan berupa rangkaian teks yang memiliki kesatuan utuh sebagai satuan bahasa yang lengkap. Kakawihan termasuk pada genre sastra karena di dalamnya terdapat harmonisasi baik bunyi, nada, ritme, dsb. Sastra merupakan representasi budaya (bahasa) yang diekspresikan oleh masyarakat suatu bahasa. Sastra juga merupakan cara lain dalam mengungkap identitas (budaya) yang terkungkung oleh tirani. Tentu sastra berkembang melalui media bahasa yang merupakan alat komunikasi terbaik yang dimiliki oleh manusia (tinjau juga konsep langage Ferdinand de Saussure). Konsep sastra sebagai representasi dari masyarakatnya tidak bisa dilepaskan dari analisis semiotika. “Pada dasarnya, teori semiotika dapat digunakan untuk menganalisis apa pun yang berkaitan dengan sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain, atau sesuatu yang pada konteks budaya tertentu memiliki makna” (Sukyadi, 2011: 181). Dengan demikian, teori semiotika bisa menjadi sebagai mata pisau untuk membedah makna, termasuk (teks) sastra. Dalam tulisan ini lebih menitikberatkan pada aspek sastra daerah yang saat ini mulai hilang ditelan zaman. Sastra daerah merupakan aspek fondasi dalam struktur bangunan dari sastra nasional (teks sastra berbahasa Indonesia). Tanpa adanya sastra daerah maka sastra nasional bisa kehilangan jati dirinya sebagai parole dari refleksi budayanya. Oleh karena itu patut kiranya kita sebagai insan bahasa untuk mempertahankan sastra daerah sebagai kearifan lokalnya. Dalam tulisan ini pula akan lebih kental dengan aroma strukturalisme karena strukturalisme erat kaitannya dengan analisis bahasa, budaya, dan masyarakat (lihat Sukyadi, 2011). Tonggak kebangkitan strukturalisme diawali dengan hadirnya buku karangan Ferdinand de Saussure yang berjudul Course in General Linguistics. Buku tersebut merupakan kumpulan materi kuliah yang disusun oleh murid-muridnya setelah Saussure meninggal. Ada beberapa gagasan utama beliau yang sampai saat ini masih berlaku dalam linguistik. Di antaranya langue, langage, parole, signified, signifier, paradigmatik, dan sintagmatik. Langue merupakan sebuah sistem bahasa tertentu, langage merupakan konsep bahasa yang hanya dimiliki oleh manusia, dan parole merupakan ujaran bahasa yang ada serta kongkret digunakan oleh masyarakat bahasa. Menurut Saussure (dalam Sukyadi, 2011: 87) “tanda linguistik terdiri atas dua bagian, yaitu signifier (pola bunyi sebuah kata, apakah dalam proyeksi mental-seperti kita menghafal bait-puisi-atau dalam bentuk aktual, realisasi psikis sebagai bagian dari ujaran) dan signified (konsep atau makna kata).”  

1.      Teori Ikonisitas

Ferdinand de Saussure merupakan salah satu peletak dasar teori ikonisitas. Ada dua pandangannya mengenai tanda bahasa yakni konsep dan citra bunyi. “Citra bunyi bukan merupakan bunyi material yang bersifat fisik, tetapi merupakan kesan psikis bunyi itu, yaitu kesan yang dibuatnya dalam pemaknaan” (Sukyadi, 2011: 213). Kedua istilah itu mempunyai hubungan yang saling melengkapi. Misalnya kita memikirkan sebuah konsep yang disebut benda dalam bahasa kita, lalu kita merujuk pada sesuatu yang menurut kita itu benda yang dimaksud. Dengan kata lain konsep mewakili realitas yang sebenarnya kita sepakati dalam konvensi kebahasaan. Hubungan antara keduanya disebut dengan tanda. Dan itu lazim disebut dengan arbitrer atau manasuka. Pengertian tersebut menyiratkan bahwa tidak adanya hubungan alami antar konsep dan citra bunyi. Saussure (1959: 67 dalam Sukyadi, 2011: 214) menyebut “konsep sebagai signifie (petanda) dan citra bunyi sebagai signifiant (penanda), sedangkan kesatuan antara keduanya disebut signe (tanda).” Akan tetapi tidak semua tanda itu arbitrer. “Walaupun Saussure berpendapat hubungan antara konsep atau petanda dengan citra akustis atau penanda bersifat arbitrer, tetapi ada juga yang tidak arbiter, yaitu onomatopea dan kata seru” (Sutami, 1999). Berbeda dengan Saussure, Pierce yang merupakan filsuf menyebutkan tanda itu ada tiga, yakni representamen, interpretant, dan object. Representamen adalah bentuk (form) yang tidak semata fisik. Interpretan adalah kesan yang ditimbulkan tanda dalam pikiran pemerhati yang dapat menjadi tanda yang lain, sedangkan objek adalah apa yang direpresentasi oleh tanda” (Sukyadi, 2011: 214). Dengan bertolak pada tiga tanda Pierce tersebut, hubungan representamen bisa langsung merujuk pada interpretan. Logikanya bahwa keduanya bisa merujuk kepada objek. Oleh karena itu hubungan keduanya bersifat tidak langsung. Selain adanya hubungan triadik tersebut, Pierce juga menyebutkan beberapa istilah yang lain. Namun itu untuk lebih menekankan kepada pemahaman pada tanda triadik tersebut yaitu, first, second, dan third. Hal tersebut sesuai dengan Sutami (1999) ”Hubungan tiga serangkai (triadic relations) antara first, second, dan third merupakan ciri teori Pierce.”

2.       Ikonisitas Sintaksis Urutan

“Struktur beku merupakan pasangan idiomatis yang urutannya tidak dapat dipertukarkan” (Sukyadi, 2011: 252). Struktur beku ini bentuknya tidak bisa berubah—frezee language. Pembentukan struktur beku ini tidak bisa dikatakan arbitrer. Struktur beku itu termotivasi karena pasti ada pola keteraturan di dalamnya. “Dalam diagram atau ikon diagramatik susunan penanda dan petandanya itu tidak sembarangan, melainkan ada sebab-sebabnya atau ada keteraturannya” (Kridalaksana, 2002: 83). Dalam bahasa Indo-Eropa ada sarjana yang meneliti tentang struktur beku, yakni Y. Malkiel, yang mengungkapkan beberapa aspek dalam struktur beku (dalam Kridalaksana, 2002: 84-5) sebagai berikut.
1.      Chronoloical priority of a (here and there, eat and drink)
2.      Priorities inherent in the structure of a society (Adam and Eve, boys and girls, kings and queens)
3.      Precedence of the stronger of two polarized traits (all or none, black and white, friend and foe)
4.      Patterns of formal preferences (aches and pains, bow and arrow, cops and robbers)
5.      Precedence of a due to internal diffusion (from head to foot, head aver heels)
6.      Transmission of sequences through loan translation (father, son, and holy ghost, fearless and faultless knight)
7.      Interplay of six forces
(1968: 338-50)

3.      Refleksi Akhir
Berdasarkan pemaparan sederhana di atas, pola bahasa yang terkandung dalam kakawihan Sunda (lagu pengiring kaulinan barudak) terpola berdasarkan urutan-urutan tertentu dengan harmonisasi bunyi. Penulis berasumsi bahwa itu merupakan struktur beku atau frozen style. Selain itu, dalam kakawihan pula tercermin budaya adi luhung Sunda yang kini mulai terlupakan. Tanda terdapat di mana saja termasuk dalam kakawihan, di situ juga sekaligus terdapat tanda budaya.

Daftar Bacaan
Kridalaksana, Harimurti. (2002). Struktur, Kategori, dan Fungsi dalam Teori Sintaksis. Jakarta: Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.

Saussure, Ferdinand de. (1959). Course in General Linguistics (terjemahan Wade Baskin). New York: Philosophical Library.
Sukyadi, Didi. (2011). Teori dan Analisis Semiotika. Bandung: Rizki Press.
Sutami, A. M. C. Hermina. (1999). Ikonisitas dalam Sintaksis Bahasa Mandarin. Disertasi Doktor pada FIB Universitas Indonesia. Tersedia: http://repository.ui.ac.id/contents/koleksi/16/003ad80f8d57d2a197b98fbff4f112cdccdbff42.pdf  [2 Juni 2012].

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tulisan yang Paling Banyak Dibaca

Share it

Apakah tulisan dalam blog ini dapat membantu Anda dalam memaknai setiap unsur kehidupan melalui puisi?

Apa kritik anda tentang tulisan-tulisan di blog ini?